Seorang ayah bercerita: “ Ketika anak perempuan saya masih kelas I SD, berulang kali kami selaku orang tua dipanggil ke sekolah oleh gurunya. Kami diberi tahu bahwa anak kami sering tidak menyelesaikan tugas menulis di sekolah sehingga harus pulang lebih akhir dibanding teman-temannya. Selain itu katanya anak kami suka menyontek tulisan temannya saat diberi tugas menyalin tulisan di papan tulis “. Si Ayah melanjutkan: “ Belakangan kami mengetahui mata anak kami minus 2,5 setelah konsultasi ke dokter.”
Sementara itu seorang Ibu berkisah: “ Putra saya memiliki hobi menggambar,
tapi nampak tidak senang jika diminta menulis dan membaca. Dia juga suka banget menonton TV dan main game di layar komputer dalam jarak dekat sambil sesekali memicingkan matanya. Kata gurunya, putra saya kurang bisa menangkap pelajaran yang ditulis di papan tulis. Nilai raportnya kurang bagus terutama untuk pelajaran matematika. Atas saran dokter, saya memeriksakan mata anak saya. Ternyata minus 4. Setelah menggunakan kacamata, nilai pelajarannya berangsur membaik .”
Cerita seorang ayah dan ibu atas putra-putri mereka menunjukkan kepada kita bahwa peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk mengenali kemungkinan gangguan penglihatan anak melalui pengamatan di sekolah dan di rumah ketika anak sedang belajar, menggunakan komputer, ataupun bermain yang menggunakan fungsi penglihatan.
Mata minus atau myopia merupakan kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk mata dibias membentuk bayangan di depan retina mata sehingga obyek terlihat kabur apabila melihat jauh.
Myopia ditandai dengan kabur jika melihat jauh, melihat obyek lebih jelas dalam jarak dekat, mata mudah lelah dan kerap mendekatkan mata ke obyek yang dilihatnya.
Bagi anak yang mampu menyampaikan keluhan penglihatan, biasanya orang tua segera memeriksakan anaknya ke dokter. Namun anak yang masih kecil atau tidak mampu menyampaikan keluhan penglihatan, para orang tua dapat memantau fungsi penglihatan anaknya melalui pengamatan sejak dini.
Myopia dapat dikenali apabila anak menunjukkan gejala-gejala sebagai berkut:
-
Kabur jika melihat jauh.
-
Memicingkan mata bila melihat jauh.
-
Membaca dalam jarak dekat.
-
Mata mudah lelah saat membaca.
-
Kadang mengeluh sakit kepala.
Bagaimana menanggulangi myopia ?
-
Menggunakan kacamata, yakni dengan koreksi lensa negatif terlemah yang menghasilkan penglihatan terbaik.
-
Lensa kontak. Penggunaan lensa kontak terutama pada myopia tinggi dan anisometria.
-
Bedah retraktif, meliputi: (a) Bedah refraktif kornea, yakni dengan mengubah lengkungan permukaan kornea menggunakan laser atau operasi lasik. (b) Bedah refraktif lensa, yakni tindakan ekstraksi lensa jernih yang diikuti dengan implantasi lensa di dalam mata (intraokuler). Tindakan bedah biasanya dilakukan jika dengan koreksi kacamata ataupun penggunaan lensa kontak tidak memberikan hasil yang memuaskan. Hanya saja, para orang tua hendaknya menanyakan efek samping yang mungkin timbul pasca operasi.
FAQ SEPUTAR MATA MINUS PADA ANAK
Apakah vitamin A dan wortel dapat mengurangi mata minus ? Jawab: Tidak. Mata minus bukan karena kekurangan vitamin A tapi karena kelainan refraksi sebagimana penjelasan pada pengertian myopia.
Apakah mata minus pada anak harus sering kontrol ? Jawab : Ya. Mata minus pada anak sebaiknya kontrol 6 bulan hingga setahun sekali terutama pada awal penggunaan kacamata karena mata minus pada anak biasanya cenderung bertambah sampai usia sekitar 20 tahun.
Semoga bermanfaat.
Edisi cetak, file PDF 499 KB, silahkan download di sini atau di sini.
Referensi:
-
PDT Ilmu Penyakit Mata RSU Dr. Soetomo, Surabaya, edisi III, 2006.
-
Ilmu Kesehatan Anak, Jilid II, ceakan XI, FKUI, 2005.
Berapa biaya operasi Lasik ? Silahkan lihat di sini.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::
Posted in Artikel, Gaya Hidup, Health, Informasi, Kesehatan Tagged: Kacamata, Lensa Kontak, Mata Minus, Myopia, Penyakit Mata, Refraksi
