Penyakit berbahaya atau bukan ?

DOK, APAKAH PENYAKIT SAYA BERBAHAYA ?

tidak_berbahaya Ketika seseorang sakit atau mengalami gangguan kesehatan, adakalanya ia bertanya-tanya dalam hati: “ bahaya atau tidak ? “ Pertanyaan senada kadang ditanyakan langsung kepada dokter yang memeriksanya di saat  berobat. Namun tak jarang ada yang menanyakan bahaya tidaknya penyakit melalui email atau melalui forum tanya jawab di internet seiring dengan makin berkembangnya informasi interaktif masalah kesehatan di internet. Pertanyaan ini sangat wajar. Siapa sih yang mau dihinggapi penyakit berbahaya ?

Dalam  pelayanan medis dan komunikasi dokter-pasien, seorang pasien berhak mengetahui informasi tentang penyakit dan kondisi yang dialaminya, sedangkan seorang dokter berkewajiban memberikan informasi kepada pasiennya dengan cara yang “bijak”.

Pada keadaan tertentu seorang dokter mungkin tidak sulit untuk memberi tahu kepada pasiennya bahwa penyakit yang diderita si pasien tidak berbahaya. Sebaliknya di saat yang lain, dimana kondisi pasien sudah pada fase terminal, bisa jadi seorang dokter merasa kesulitan untuk memberi tahu kondisi pasien dengan cara apa adanya. Menghadapi situasi semacam ini biasanya seorang dokter memilih jalan tengah, yakni memberi tahu keluarga dekat si pasien dengan cara yang “bijak” sembari memberi support untuk tetap berikhtiar.

Ditinjau dari sudut pandang pasien, istilah “bahaya” barangkali bukan hanya berbahaya terhadap jiwa, langsung maupun tidak langsung, tapi mungkin dapat bermakna lain bergantung pada penyakit dan maksud penderita itu sendiri.

Sebagai contoh, ketika seorang pria dewasa menderita Disfungsi Ereksi lantas menanyakan bahaya atau tidak terkait penyakitnya, tentu istilah “bahaya” yang ditanyakannya tidak berhubungan dengan keselamatan jiwa. Pada kasus ini, istilah “bahaya” mungkin dimaksudkan apakah nantinya “cucakrowo” masih mampu berkicau sambil mengepakkan sayap atau lunglai selamanya. Makna lain mungkin dimaksudkan apakah ia nantinya mampu memuaskan pasangannya dan memberikan keturunan atau tidak.

Demikian pula misalnya ketika seorang gadis menanyakan bahaya tidaknya bekas cacar air di wajahnya. Pada contoh ini, istilah bahaya sangat mungkin berhubungan dengan “penampilan”.

Lain lagi manakala seorang penderita Herpes zoster menanyakan bahaya tidaknya penyakit yang sedang dideritanya. Secara umum, pertanyaan “bahaya” mungkin dikaitkan dengan rasa nyeri yang ditimbulkan oleh Herpes zoster. Sedangkan secara khusus, bila Hepers zoster menyerang area wajah, khususnya area mata, pertanyaan “bahaya” barangkali berhubungan dengan efek terhadap fungsi penglihatan.

Tatkala seorang ibu diberitahu bahwa anaknya menderita infeksi amandel (tonsilitis), boleh jadi istilah “bahaya” yang ada di benaknya dikaitkan dengan operasi atau tidak. *membahayakan isi dompet* :)

Beberapa contoh kecil  di atas menunjukkan bahwa istilah “bahaya” yang digunakan seseorang terkait dengan penyakit yang sedang dideritanya, tidak selalu berhubungan dengan keselamatan jiwa. Istilah “bahaya” tersebut memiliki makna lebih luas, lebih bervariasi, bahkan adakalanya bersifat individual bergantung pada pelbagai faktor yang menyertainya.

Menilik beragamnya maksud pertanyaan “bahaya” dari masing-masing pasien berkenaan dengan penyakitnya, seorang dokter dituntut untuk lebih “mengenal” para pasiennya agar informasi yang diberikan tidak meruntuhkan mental pasien. Jika tidak, “maksud baik” seorang dokter untuk memberitahu pasien dengan tujuan agar mengetahui penyakitnya, bukan tidak mungkin justru akan membuat pasien makin menderita sepulang dari ruang pemeriksaan dokter.

Di media online, pertanyaan tentang “bahaya” tidaknya penyakit kerap diajukan oleh pengunjung. Hal ini sangat wajar mengingat begitu banyaknya informasi penyakit dan kesehatan bertebaran diinternet.

Kadang seseorang merasa sangat khawatir hanya gara-gara membaca kalimat yang beraroma “menakutkan”, seperti: waspadaijangan remehkannol koma sekian persen berakhir dengan kematian … dan kata-kata bombastis sejenis yang bagi sebagian orang mengakibatkan tak dapat tidur semalaman.

Salahkah ? Tidak. Keduanya tidak salah. Penulis artikel mungkin ingin mengajak pembaca untuk berhati-hati, sedangkan pembaca yang ketakutan juga tidak bersalah atas rasa takutnya.

Lantas bagaimana jalan keluarnya ? Yang diperlukan menurut saya adalah dibukanya pintu dialog online, melalui email atau halaman tanya jawab (konsultasi atau apapun namanya) secara berkesinambungan agar dapat saling bertukar informasi secara “bijak”.

Dibanding di ruang pemeriksaan dokter atau di praktek, dialog online bisa dibilang lebih sulit lantaran komunikasi antara pengunjung dan dokter dilakukan dengan “tidak saling berhadapan”. Berbeda dengan di ruang periksa, dimana seorang dokter sedikit banyak dapat menilai pasien sehingga lebih mudah memilih kalimat yang tepat dalam memberikan informasi.

Bagimana pendapat pembaca ?

Silahkan berbagi … :)

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

Posted in Artikel, Health, Informasi, Kesehatan, Umum Tagged: Health, Informasi, Kesehatan, Komunikasi, Penyakit