{"id":156473,"date":"2010-01-08T22:17:13","date_gmt":"2010-01-09T03:17:13","guid":{"rendered":"http:\/\/www.skyscrapercity.com\/showthread.php?t=1041297"},"modified":"2010-01-08T22:17:13","modified_gmt":"2010-01-09T03:17:13","slug":"kota-metropolitan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mereja.media\/index\/156473","title":{"rendered":"Kota Metropolitan Indonesia"},"content":{"rendered":"<div>Data Statistik Indonesia tahun 2008 berdasarkan estimasi dengan tingkat akurasi 96% dan berpatokan pada data resmi tahun 2003-2007:<br \/>\n3,3 Juta penduduk Surabaya luas 326,36 km2 ekonominya Rp. 150 Trilliun  (Rp. 45 Juta per orang). 21% ekonomi Jatim Rp. 700 Trilliun.<br \/>\n10 Juta penduduk Jakarta luas 740 km2 ekonominya Rp. 720 Trilliun (Rp. 72 Juta per orang) bila dibagi 5 kota di Jakarta maka Rp. 144 Trilliun per kota.<br \/>\n2,3 Juta penduduk Medan luas 265,10 km2  ekonominya Rp. 65 Trilliun (Rp. 28 Juta per orang). 30% dari ekonomi Sumut Rp. 220 Trilliun.<br \/>\n2,5 Juta penduduk Bandung luas 167,29 km2 ekonominya Rp. 60 Trilliun (Rp. 24 Juta per orang). 8,7% dari ekonomi Jabar Rp. 680 Trilliun.<br \/>\n2,1 Juta penduduk Tangerang luas 164,5 km2 ekonominya Rp. 48 Trilliun (Rp. 23 Juta per orang). 37% dari ekonomi Banten Rp. 130 Triliun.<br \/>\n1 Juta penduduk Batam luas 715 km2 ekonominya Rp. 38 Trilliun (Rp. 38 Juta per orang). 62% dari ekonomi Kep. Riau Rp. 60 Trilliun.<br \/>\n1,5 Juta penduduk Semarang luas 373,70 km2 ekonominya Rp. 35 Trilliun (Rp. 23 Juta per orang). 9,6% dari ekonomi Jateng Rp. 360 Trilliun.<br \/>\n800 Ribu penduduk Pekanbaru luas 600 km2 ekonominya Rp. 33 Trilliun (Rp. 41 Juta per orang). 13,7% dari ekonomi Riau Rp. 240 Trilliun.<br \/>\n600 Ribu penduduk Balikpapan luas 503 km2 ekonominya Rp. 32 Trilliun (Rp. 53 Juta per orang). 13,3% dari ekonomi Kaltim Rp. 240 Trilliun.<br \/>\n1,4 Juta penduduk Palembang luas 400 km2 ekonominya Rp. 32 Trilliun (Rp. 23 Juta per orang). 24,6% dari ekonomi Sumsel Rp. 130 Trilliun.<br \/>\n1,8 Juta penduduk Bekasi luas 210,49 km2 ekonominya Rp. 30 Trilliun (Rp. 16,6 Juta per orang). 4,5% dari ekonomi Jabar Rp. 675 Trilliun.<br \/>\n800 Ribu penduduk Banjarmasin luas 97 km2 ekonominya Rp. 24 Trilliun (Rp. 30 Juta per orang). 50% dari ekonomi Kalsel Rp. 48 Trilliun.<br \/>\n1 Juta penduduk Malang luas 110 km2 ekonominya Rp. 24 Trilliun (Rp. 24 Juta per orang). 3,4% dari ekonomi Jatim Rp. 700 Trilliun.<br \/>\n1,3 Juta penduduk Makassar luas 175,77 km2 ekonominya Rp. 24 Trilliun (Rp. 18,4 Juta per orang). 30% dari ekonomi Sulsel Rp. 80 Trilliun.<br \/>\n900 Ribu penduduk Padang luas 694,96 km2 ekonominya Rp. 21 Trilliun  (Rp. 23 Juta per orang). 30% dari ekonomi Sumbar Rp. 70 Trilliun.<br \/>\n600 Ribu penduduk Samarinda luas 783 km2 ekonominya Rp. 20 Trilliun (Rp. 33 Juta per orang). 8% dari ekonomi Kaltim Rp. 250 Trilliun.<br \/>\n1,2 Juta penduduk Depok luas 65,80 km2 ekonominya Rp. 15,6 Trilliun (Rp. 12,5 Juta per orang). 2,3% dari ekonomi Jabar Rp. 680 Trilliun.<br \/>\n1 Juta penduduk Bandar Lampung luas 198,85 km2 ekonominya Rp. 12 Trilliun (Rp. 12 Juta per orang). 17% dari ekonomi Lampung Rp. 70 Trilliun.<br \/>\n600 Ribu penduduk Yogyakarta luas 32 km2 ekonominya Rp. 11 Trilliun (Rp. 20 Juta per orang). 27,5% dari ekonomi DIY Rp. 40 Trilliun.<br \/>\n600 Ribu penduduk Denpasar luas 123 km2 ekonominya Rp. 10 Trilliun (Rp. 16,6 Juta per orang). 20% dari ekonomi Bali Rp. 50 Trilliun.<br \/>\n600 Ribu penduduk Manado luas 110 km2  ekonominya Rp. 9 Trilliun (Rp. 16,6 Juta per orang). 30% dari ekonomi Sulut Rp. 30 Trilliun.<br \/>\n900 Ribu penduduk Bogor luas 21,46 km2 ekonominya Rp. 9 Trilliun (Rp. 10,7 Juta per orang). 1,3% dari ekonomi Jabar Rp. 680 Trilliun.<br \/>\n550 Ribu penduduk Solo luas 46 km2 ekonominya Rp. 8,4 Trilliun (Rp. 14,5 Juta per orang). 2,1% dari ekonomi Jateng Rp. 360 Trilliun.<br \/>\n\tStatistik Indonesia jumlah gedung diatas 20 lantai : Jakarta 187 yang tertinggi 50-55 lantai, Surabaya 40 yang tertinggi 42 lantai, Tangerang 15 yang tertinggi 52 lantai, Medan-Bandung antara 3-5 yang tertinggi 27 lantai, Batam 2 gedung jadi antara 22-23 lantai dan 10 gedung dibangun yang tertinggi 42 lantai, Makassar-Solo-Balikpapan 2 gedung jadi 21-25 lantai dan 3 gedung dibangun tertinggi 25-30 lantai. Gedung 10-19 lantai : Jakarta 200, Surabaya 50, Medan 26, Bandung 26, Semarang 20, Makassar 15, Tangerang 12, Bekasi 10, Balikpapan 8, Batam 8, Manado 8, Palembang 6, Pekanbaru 6, Denpasar-Samarinda-Lampung-Jambi-Tarakan-Solo-Cirebon-Tasikmalaya-Bogor antara 1-5 gedung. Gedung 7-9 lantai : Jakarta 343, Surabaya 60, Medan 25, Semarang 20, Bandung 16, Batam 16, Makassar 15, Yogyakarta 15, Solo-Palembang-Pekanbaru-Balikpapan-Bekasi-Tangerang-Denpasar-Bogor-Malang antara 7-14 gedung. Gedung tinggi minimal 7 lantai : Jakarta 730, Surabaya 150, Medan 56, Bandung 45, Tangerang 43, Semarang 40, Makassar 30, Batam 26, Balikpapan-Palembang-Yogya-Pekanbaru-Samarinda-Solo-Bekasi-Manado antara 10-20 gedung. Pusat perbelanjaan besar dan modern : Jakarta 130, Bandung 40, Medan 30, Surabaya 30, Semarang 15, Batam 15, Balikpapan 15, Bekasi 15, Tangerang 15, Malang 13, Solo-Yogyakarta-Makassar-Pekanbaru-Palembang-Manado antara 5-12. Data 2008 hotel bintang 3-5 : Jakarta 100 lebih, Bandung 54, Surabaya-Medan-Semarang-Denpasar-Yogyakarta antara 25-30, Anyer-Puncak-Makassar-Solo-Pekanbaru-Bogor-Palembang-Samarinda-Manado-Balikpapan antara 10-20. <br \/>\n\tJakarta dibangun 32 tahun dari pajak industri dan kekayaan alam daerah. Jatim-Jabar banyak penempatan industri. Riau-Kaltim propinsi terkaya migas-batubara. Ekonomi 13 Juta warga NTT-NTB-Maluku-Papua Rp. 175 Trilliun (Rp. 13,4 Juta per orang) belum ada kota metropolitan. Data 2008 : Ekonomi Sulawesi Rp. 180 Trilliun punya 1 kota metropolitan Makassar ekonominya Rp. 24 Trilliun (30% ekonomi Sulsel Rp. 80 Trilliun). Ekonomi Jateng-DIY Rp. 400 Trilliun. 13%  (Rp. 55 Trilliun) untuk ekonomi Semarang Rp. 35 Trilliun dan Rp. 19 Trilliun ekonomi Solo-Yogya penduduknya 6% Jateng-DIY. <br \/>\n\tDi <a href=\"http:\/\/www.makassarkota.go.id\" >www.makassarkota.go.id<\/a> ekonomi Makassar tahun 2006 Rp. 18 Trilliun dan di SWA (6-19 Agustus 2009) ekonomi 1,3 Juta orang Makassar tahun 2007 Rp. 21 Trilliun (Rp. 16 Juta per orang). Data BPS ekonomi Semarang tahun 2006 Rp. 26,6 Trilliun dan Solo Rp. 6 Triliun. Ekonomi 1,5 Juta orang Semarang tahun 2008 Rp. 35 Trilliun (Rp. 23 Juta per orang) dan 550 Ribu orang Solo Rp. 8,4 Trilliun (Rp. 14,5 Juta per orang). Ekonomi 900 Ribu orang Kudus Rp. 27 Trilliun (Rp. 30 Juta per orang). Ekonomi 2 Juta orang Cilacap Rp. 30 Trilliun (Rp. 15 Juta per orang). Data Pendapatan Asli Daerah 2007 : Semarang Rp. 231,7 Milliar, Pekanbaru-Palembang-Makassar-Denpasar antara Rp. 120-150 Milliar, Yogyakarta Rp. 100 Milliar, Solo Rp. 86 Milliar. SWA 6-19 Agustus 2009 : Cabang Bank : Semarang 62, Denpasar 46, Solo-Makassar-Palembang-Pekanbaru antara 40-41, Yogyakarta 36, Manado 27, Capem Bank : Semarang 395, Solo 175, Denpasar 165, Pekanbaru 165, Palembang 149, Makassar 118, Yogyakarta 100, Manado 50. ATM : Semarang 451, Yogyakarta 418, Denpasar 402, Makassar 372, Solo-Palembang 315, Pekanbaru 293, Manado 170. Estimasi ekonomi 2009 : Semarang Rp. 40 Trilliun, Makassar Rp. 28 Trilliun, Yogyakarta Rp. 14 Trilliun, Denpasar Rp. 12 Trilliun, Manado Rp. 11 Trilliun, Solo Rp. 10 Trilliun. Simpanan perbankan 2009 (<a href=\"http:\/\/www.bi.go.id\" >www.bi.go.id<\/a>) : Semarang Rp. 34 Trilliun, Tangerang Rp. 30 Trilliun, Pekanbaru Rp. 20 Trilliun, Palembang Rp. 20 Trilliun, Makassar Rp. 17 Trilliun, Solo-Samarinda-Batam-Yogyakarta antara Rp. 13-14 Trilliun, Denpasar-Manado-Balikpapan-Bekasi antara Rp. 6-10 Trilliun. Jatah haji Depag : Semarang 2000, Makassar 1100, Solo 1100, Yogyakarta 510. Persentase etnis Jawa menjadi mayoritas di kota : Medan 28%, Balikpapan 29%, Bekasi 35%, Jakarta 40%, Surabaya 80%, Semarang 80%, Yogyakarta 80%, Solo 90%. Persentase etnis Jawa menjadi etnis ke 2 terbesar : Pekanbaru 25%, Palembang 27%.<br \/>\n\tMakassar memimpin propinsi Sulawesi Selatan ekonominya Rp. 80 Trilliun (Data tahun 2008). Semarang memimpin propinsi Jateng ekonominya Rp. 360 Trilliun dan Yogyakarta menguasai propinsi DIY yang ekonominya Rp. 40 Trilliun. Ekonomi Makassar Rp. 24 Trilliun setara 30 % ekonomi Sulsel. 8 Juta penduduk Sulsel di 24 kota\/kabupaten yang lain dapat Rp. 56 Trilliun (Rp. 7 Juta per orang). Ekonomi seluruh Sulawesi Rp. 180 Trilliun punya 1 kota metropolitan. Ekonomi Jateng-DIY dikurangi ekonomi Semarang-Solo-Kudus-Cilacap-Yogyakarta Rp. 111 Trilliun yaitu Rp. 288 Trilliun untuk 29 Juta penduduk di 31 kota\/kabupaten di Jateng dan 3,5 Juta penduduk DIY di 4 kabupaten atau Rp. 9 Juta per orang. Gedung tertinggi di Yogyakarta-Denpasar-Malang-Padang-Banjarmasin 8-10 lantai, Palembang-Semarang-Batam 17-21 lantai, Bandung 21 lantai (setelah dikurangi lantai 2,4,13 dll), Makassar 23 lantai, Medan 27 lantai, Solo 30 lantai, Tangerang 52 lantai. Ukuran kota besar bukan gedung bertingkat karena Korut ada Ryungyong Hotel 105 lantai, Arab ada Burj Dubai 162 lantai, di Eropa-Jepang belum ada gedung diatas 75 lantai. Ekonomi gedung bertingkat-hotel-mall itu paling kecil hanya 10%. Ekonomi terbesar dari industri manufaktur. Bandung punya 40 mall dan 54 hotel berbintang 3-5, Medan dan Surabaya masing masing hanya 30 mall dan 25-30 hotel berbintang 3-5. Lihat data statistik ekonomi 2008 : Surabaya Rp. 150 Trilliun, Medan Rp. 65 Trilliun, Bandung Rp. 60 Trilliun.   Ihhh aku benci !<br \/>\n\tPendapatan Kudus-Batam Rp. 30-38 Juta per orang lebih besar dari Bandung Rp. 24 Juta per orang. Surabaya-Medan-Semarang-Batam luasnya diatas 250 Km2 dan punya pelabuhan sehingga disukai industri berat. Bandung luasnya 167 Km2 dan tanpa pelabuhan sehingga mengandalkan mall. Misalkan 1 kota punya 100 gedung kantor-apartemen-hotel 40 lantai total 4000 lantai bila tiap 1 lantai menghasilkan Rp. 5 Juta per hari (Rp. 1,8 Milliar per tahun) ekonomi kota itu Rp. 7,2 Trilliun per tahun. Misalkan 1 kota punya 100 Mall dan taman hiburan pengunjungnya 4 Juta orang per tahun, tiap orang belanja Rp. 500 Ribu, ekonomi kota itu Rp. 2 Trilliun per tahun. 1 kota punya industri dengan 200 perusahaan. Omset tiap perusahaan Rp. 50 Milliar pertahun, ekonomi kota itu Rp. 10 Trilliun per tahun. Pendapatan Kudus Rp. 30 Juta per orang, Medan Rp. 28 Juta per orang, Bandung Rp. 24 Trilliun, Makassar Rp. 17 Juta per orang. Kenapa pendapatan per kapita Kudus tinggi ? Makassar ada pembangunan Bosowa Tower 23 lantai-Kalla Tower 17 lantai-Graha Pena 18 lantai-Menara Mega 15 lantai-Menara Unismuh 15 lantai-Mall Makassar Town Square-Apartemen Royal 26 lantai nilainya total Rp. 1 Trilliun, Taman hiburan trans Kalla Rp. 1 Trilliun, Bandara Hasanuddin Rp. 1 Trilliun, Nilainya Rp. 3 Trilliun. Bila pembangunan 3 tahun maka dalam 1 tahun ekonomi konstruksi Makassar bertambah Rp. 1 Trilliun. Solo ada 5 Hipermarket, pembangunan 3 apartemen Paragon-Kusuma Mulia-Solo Center Point 25-30 lantai. Yogyakarta ada banyak hotel dan Ambarukmo Plaza yang termewah di Jateng-DIY. Balikpapan-Palembang-Pekanbaru unggul di ekonomi migas diatas Rp. 5 Trilliun, Tangerang-Batam-Semarang-Kudus-Bekasi unggul di ekonomi industri diatas Rp. 8 Trilliun, Bekasi-Tangerang tumpuan industri 10 Juta warga Jakarta ekonomi Rp. 720 Trilliun, Batam tumpuan industri ekspor, Kudus industri rokok terbesar. Kudus hanya 2 mall dan  tidak ada gedung tinggi tapi punya Pura-Djarum-Polytron. Semarang tumpuan industri 33 Juta warga Jateng ekonomi Rp. 360 Trilliun, Makassar tumpuan industri 9 Juta warga Sulsel ekonomi Rp. 80 Trilliun (17 Juta warga Sulawesi ekonomi Rp. 156 Trilliun), Yogyakarta tumpuan industri 4 Juta warga DIY ekonomi Rp. 40 Trilliun. Semarang punya 7 kawasan industri yaitu Candi, Terboyo, Tugu, Tambak  Aji, Tanjung Mas, Bugangan, Wijayakusuma. Semarang ada pembangunan kawasan industri Candi, Paragon City 12 lantai, Indosat 12 lantai, 5 hotel di Pandama 10-20 lantai, 5 apartemen Tendean-Tanah Mas 10-18 lantai, super blok Sri Ratu. Di Semarang, Lippo berniat bangun 5 gedung 200 meter (50 lantai), Paragon berniat bangun apartemen 40 lantai tapi terhadang KKOP (Suara Merdeka 20-10-2008). Tanpa KKOP, Semarang seharusnya sudah punya 40 gedung 40-100 lantai, 260 gedung 17-20 lantai. KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) peraturan ketinggian gedung maksimal 15 lantai karena bandara udara Semarang di tengah kota. <br \/>\n\tHotel bintang 3-5 dengan lantai tertinggi data tahun 2009 : Bandung 9 (Holiday Inn-Panghegar-Mollis-Horison-Preanger-Hilton-Novotel-Hyatt 10-15 lantai, Aston Hotel 18 lantai), Yogyakarta 9 (Sheraton Mustika-Hyatt-Quality-Natour Garuda-Novotel-Radisson-Ibis-Sahid-Plaza 8 lantai), Pekanbaru 9 (Grand Zuri-Jatra-Labersa-Ibis-Aryadutta-Resty Menara-Pangeran-Furaya-Mutiara Merdeka 8-12 lantai), Semarang 8 (Swiss Bell-Grand Candi-Pandanaran-Santika-Ibis-Horison-Novotel 10-14 lantai, Gumaya 17 lantai), Makassar 7 (Imperial Arya Duta-Sahid Jaya-Banua Makassar-Singgasana Marannu City-Santika-Horison 10-14 lantai, Clarion 17 lantai), Solo 6 (The Sunan Quality-Novotel-Ibis-Asia-Best Western 6-8 lantai, Sahid Raya 11 lantai), Palembang 6 (Horison-Sanjaya-Jayakarta-Lembang-Royal Asia 8-10 lantai, Aryadutta 18 lantai), Manado 5 (Swiss Bell-Aston-Grand Puri-Ritzy-Peninsula 10-15 lantai). Hotel bintang 5 data tahun 2009 : Solo-Palembang-Manado-Makassar-Pekanbaru antara 2-3, Yogyakarta 4, Semarang 5, Bandung 6.<br \/>\n:banana::banana::banana::bash::nuts::cheers::lol::banana:<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Data Statistik Indonesia tahun 2008 berdasarkan estimasi dengan tingkat akurasi 96% dan berpatokan pada data resmi tahun 2003-2007: 3,3 Juta penduduk Surabaya luas 326,36 km2 ekonominya Rp. 150 Trilliun (Rp. 45 Juta per orang). 21% ekonomi Jatim Rp. 700 Trilliun. 10 Juta penduduk Jakarta luas 740 km2 ekonominya Rp. 720 Trilliun (Rp. 72 Juta per [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-156473","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=156473"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156473\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=156473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=156473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=156473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}