{"id":225170,"date":"2010-01-25T05:56:42","date_gmt":"2010-01-25T10:56:42","guid":{"rendered":"http:\/\/cakmoki86.wordpress.com\/2010\/01\/25\/ruam-di-balik-popok\/"},"modified":"2010-01-25T05:56:42","modified_gmt":"2010-01-25T10:56:42","slug":"ruam-di-balik-popok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mereja.media\/index\/225170","title":{"rendered":"Ruam di balik popok"},"content":{"rendered":"<p><strong>KODE ICD-10 : <a title=\"L22 : Diaper Dermatitis\" href=\"http:\/\/apps.who.int\/classifications\/apps\/icd\/icd10online\/?gl20.htm+l22\" >L22<\/a> : <a title=\"wikipedia : diaper rash\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Diaper_rash\" >Diaper Rash<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><a title=\"Sumber gambar : Getty Images\" href=\"http:\/\/www.gettyimages.com\/\" ><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;\" title=\"Diaper Rash\" src=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/ruam_popok.jpg?w=110&#038;h=140\" border=\"0\" alt=\"Diaper Rash\" width=\"110\" height=\"140\" align=\"left\" \/><\/a> Ruam popok <em>( diaper rash, diaper dermatitis, napkin dermatitis )<\/em> masih kerap kita jumpai dalam keseharian, terutama pada bayi. Para orang tua sudah tidak asing lagi dengan ruam popok, suatu gangguan kulit berupa <strong><span style=\"color:#ff0000;\">bercak merah<\/span><\/strong> pada kulit di area yang tertutup popok, yakni: pantat, perut bagian bawah, pelipatan paha, area kemaluan dan dubur (anogenital). Ruam popok atau <em>irritant diaper dermatitis<\/em> (IDD) merupakan bercak merah pada kulit yang tertutup popok karena iritasi oleh pelbagai faktor.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\">Meski ruam popok <strong>tidak bahaya<\/strong>, namun tak jarang membuat anak terganggu karena rasa gatal, perih, risih dan kadang terasa sakit, sehingga anak menjadi gelisah dan rewel.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><span id=\"more-1503\"><\/span>Ruam popok atau <em>irritant diaper dermatitis<\/em> (IDD) merupakan bercak merah pada kulit yang tertutup popok karena iritasi oleh pelbagai faktor.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\">Pada ruam popok yang ringan, pada umumnya akan sembuh dalam beberapa hari dengan pemberian bedak atau bahkan tanpa diobati.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>ANGKA KEJADIAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><a title=\"Sumber gambat: MyhildHealth\" href=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/diaperrash2.jpg\" ><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;\" title=\"Diaper Rash\" src=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/diaperrash2_thumb.jpg?w=140&#038;h=110\" border=\"0\" alt=\"Diaper Rash\" width=\"140\" height=\"110\" align=\"left\" \/><\/a> Incidence rate (angka kejadian) ruam popok berbeda-beda di setiap negara, bergantung pada hygiene, pengetahuan orang tua (pengasuh) tentang tata cara penggunaan popok dan menurut saya mungkin juga berhubungan dengan faktor cuaca. <em><a title=\"Overview of diaper dermatitis in infants and children\" href=\"http:\/\/www.uptodate.com\/patients\/content\/topic.do?topicKey=~xrLfPvmT.k.TnL\" >Kimberly A Horii<\/a>, MD<\/em> (asisten profesor spesialis anak Universitas Misouri) dan <em><a title=\"Diaper Rash\" href=\"http:\/\/www.medicinenet.com\/diaper_rash\/article.htm\" >John Mersch<\/a>, MD, FAAP<\/em> menyebutkan bahwa 10-20 % Diaper dermatitis dijumpai pada praktek spesialis anak di Amerika. Sedangkan prevalensi pada bayi berkisar antara 7-35%, dengan angka terbanyak pada usia 9-12 bulan. Sementara itu <em><a title=\"Pediatrics, Diaper Rash\" href=\"http:\/\/emedicine.medscape.com\/article\/801222-overview\" >Rania Dib<\/a>, MD<\/em> menyebutkan ruam popok berkisar 4-35 % pada usia 2 tahun pertama.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:left;\">Beberapa faktor penyebab terjadinya ruam popok <em>( diaper rash, diaper dermatitis, napkin dermatitis )<\/em>, antara lain:<\/p>\n<ul style=\"text-align:left;\">\n<li>\n<div>Iritasi atau gesekan antara popok dengan kulit.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Faktor kelembaban.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Kurangnya menjaga hygiene. Popok jarang diganti atau terlalu lama tidak segera diganti setelah pipis atau BAB (feces).<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Infeksi mikro-organisme (terutama infeksi jamur dan bakteri)<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Alergi bahan popok.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div style=\"text-align:left;\">Gangguan pada kelenjar keringat di area yang tertutup popok.<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align:left;\"><a href=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/ruampopok2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;\" title=\"Ruam popok\" src=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/ruampopok2_thumb.jpg?w=140&#038;h=110\" border=\"0\" alt=\"Ruam popok\" width=\"140\" height=\"110\" align=\"left\" \/><\/a> Ruam popok yang disebabkan oleh iritasi dan faktor kelembaban, pada umumnya dapat disembuhkan dengan bedak dan mengganti popok sesering mukin terutama jika basah dan kotor oleh urine atau feces. Sedangkan ruam popok yang disebabkan oleh infeksi mikro-organisme, seyogyanya berobat ke dokter terdekat untuk mendapatkan obat yang tepat sesuai penyebabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>BERBAGAI BENTUK GANGGUAN KULIT PADA RUAM POPOK<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:left;\">Beberapa gangguan kulit yang berhubungan dengan ruam popok, diantaranya:<\/p>\n<ul style=\"text-align:left;\">\n<li>\n<div><strong>Intertrigo<\/strong>, yakni iritasi atau lecet pada kulit dikarenakan kulit basah dan lembab serta gesekan dengan popok, sehingga permukaan kulit menjadi lebih mudah terkelupas.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Miliaria<\/strong> atau biang keringat, yakni timbulnya bintik-bintik merah pada permukaan kulit karena penyumbatan kelenjar keringat (kelenjar eccrine).<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Dermatitis kontak<\/strong> (contact dermatitis), merupakan reaksi alergi terhadap bahan popok. Dapat juga karena reaksi alergi terhadap campuran urine dan feces yang dibiarkan terlalu lama melekat di popok. Selain itu, perubahan PH oleh urine dan feces pada kulit diduga memicu terjadinya reaksi alergi.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Candidal diaper dermatitis<\/strong>, yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans. Sekitar 40-70% ruam popok yang berlangsung lebih 3 hari dapat memicu terjadinya kolonisasi jamur kandida.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Bacterial diaper dermatitis<\/strong>, yakni ruam popok yang disebabkan oleh infeksi kuman (bakteri), terutama Staphylococcus, Streptococcus dan Enterobacteriaceae. Jenis ruam popok karena infeksi kuman yang kerap dijumpai adalah <a href=\"http:\/\/cakmoki86.wordpress.com\/2007\/07\/06\/impetigo-kulit-melepuh\/trackback\/\" >impetigo<\/a><strong><\/strong> dan <strong>sesulitis<\/strong> (cellulitis) serta folikulitis (folliculitis).<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Granuloma gluteal infantum,<\/strong> merupakan gangguan kulit pada ruam popok yang jarang terjadi. Biasanya timbul karena terlalu lama iritasi dan infeksi mikro-organisme yang tidak diobati.<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>PENGOBATAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><a title=\"Baby Diapering Care\" href=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/tipsperawatanpopok.jpg\" ><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"display:inline;border-width:0;margin:5px 10px 0 0;\" title=\"tips perawatan popok\" src=\"http:\/\/cakmoki86.files.wordpress.com\/2010\/01\/tipsperawatanpopok_thumb.jpg?w=140&#038;h=110\" border=\"0\" alt=\"tips perawatan popok\" width=\"140\" height=\"110\" align=\"left\" \/><\/a> Pada prinsipnya, pengobatan ruam popok bergantung kepada penyebabnya. Ruam popok yang disebabkan iritasi dan miliaria, tidak memerlukan obat khusus. Cukup dengan menjaga agar popok tetap kering dan memelihara hygiene.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\">Pada ruam popok yang disebabkan oleh infeksi mikro-organisme, atau iritasi dan miliaria yang luas, obat-obat yang lazim digunakan, antara lain:<\/p>\n<ul style=\"text-align:left;\">\n<li>\n<div><strong>Bedak<\/strong> salisil dan bedak yang mengandung antihistamin. Hanya digunakan pada iritasi (intertigo) dan miliaria atas anjuran dokter. Pastikan bedak tidak berhamburan agar tidak mengganggu pernafasan si kecil.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Anti jamur<\/strong>. Digunakan pada ruam popok karena infeksi jamur (candidal diaper dermatitis). Pilih anti jamur berbentuk bedak (merk dagang, misalnya: daktarin powder dan mycorine powder), diberikan selama 3-4 minggu.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Anti infeksi <\/strong>topikal (salep, krim). Digunakan pada ruam popok yang disebabkan oleh infeksi bakteri ringan, misalnya bacitracin salep. Adapun untuk infeksi yang lebih berat, dapat digunakan anti infeksi oral (diminum), misalnya kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat dan diberikan pula anti infeksi topikal.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><strong>Steroid<\/strong>. Digunakan pada ruam popok yang disebabkan reaksi alergi, dioleskan 2 kali sehari hingga sembuh atau selama 2 minggu.<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align:left;\">Walaupun ruam popok bukanlah penyakit yang serius, jika dalam 2-3 hari tidak kunjung sembuh, maka langkah terbaik adalah konsultasi ke dokter. Penggunaan anti jamur, anti infeksi dan steroid hendaknya hanya atas rekomendasi dokter.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>TIPS MENCEGAH DAN MENGATASI RUAM POPOK<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align:left;\">\n<li>\n<div>Apapun jenis popok yang digunakan, pastikan popok tetap bersih dan kering.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Hindari pemakaian popok yang ketat.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Ganti popok segera setelah si kecil buang air kecil atau BAB.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Gunakan air mengalir untuk membersihkan feces (tinja) dengan bilasan lembut. Usahakan tidak menggosok area dubur dan pantat agar tidak iritasi. Biarkan area pantat mengering oleh udara terbuka.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Jika si kecil mengalami ruam popok, dapat menggunakan krim pelindung kulit yang mengandung petrolatum dan zinc oxide. Oleskan secara lembut dan tipis sebagai pelindung kulit si kecil.<\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>Konsultasikan ke dokter bila ruam popok tidak sembuh dalam 3 hari.<\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>Semoga bermanfaat<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>Link terkait:<\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align:left;\">\n<li>\n<div>Wikipedia : <a title=\"Wikipedia: Diaper Rash\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Diaper_rash\" >Diaper Rash<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><a title=\"Pediatrics, Diaper Rash\" href=\"http:\/\/emedicine.medscape.com\/article\/801222-overview\" >Pediatrics, Diaper Rash<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><a title=\"Overview of Diaper Dermatitis in Infant and Children\" href=\"http:\/\/www.uptodate.com\/patients\/content\/topic.do?topicKey=~xrLfPvmT.k.TnL\" >Overview of Diaper Dermatitis<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div>MedicineNet: <a title=\"MedicineNet: Diaper Rash\" href=\"http:\/\/www.medicinenet.com\/diaper_rash\/article.htm\" >Diaper Rash<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><a title=\"Infections Diaper Rash\" href=\"http:\/\/kidshealth.org\/parent\/pregnancy_newborn\/common\/diaper_rash.html\" >Infections Diaper Rash<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><a title=\"Baby Diapering Care\" href=\"http:\/\/www.babycenter.com\/baby-diapering\" >Baby Diapering Care<\/a><\/div>\n<\/li>\n<li>\n<div><a title=\"Impetigo\" href=\"http:\/\/cakmoki86.wordpress.com\/2007\/07\/06\/impetigo-kulit-melepuh\/\" >Impetigo<\/a><\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align:left;\"><strong>Edisi cetak, format PDF 549 KB, silahkan download <a title=\"Diaper Rash 549 KB\" href=\"http:\/\/www.box.net\/shared\/ekguacr1a9\" >di sini<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align:center;\">:: :: :: posting menggunakan <a title=\"Windows Live Writer\" href=\"http:\/\/get.live.com\/writer\/overview\" >WLW<\/a> :: :: ::<\/p>\n<p>Posted in Artikel, Blog, Gaya Hidup, Health Informatic, Informasi, Kesehatan Tagged: Bayi, Diaper Dermatitis, Diaper Rash, Penyakit Kulit, Ruam Popok <a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/gocomments\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\"><img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/comments\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\" \/><\/a> <a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/godelicious\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\"><img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/delicious\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\" \/><\/a> <a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/gostumble\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\"><img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/stumble\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\" \/><\/a> <a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/godigg\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\"><img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/digg\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\" \/><\/a> <a rel=\"nofollow\" href=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/goreddit\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\"><img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/feeds.wordpress.com\/1.0\/reddit\/cakmoki86.wordpress.com\/1503\/\" \/><\/a> <img decoding=\"async\" alt=\"\" border=\"0\" src=\"http:\/\/stats.wordpress.com\/b.gif?host=cakmoki86.wordpress.com&#038;blog=570093&#038;post=1503&#038;subd=cakmoki86&#038;ref=&#038;feed=1\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KODE ICD-10 : L22 : Diaper Rash Ruam popok ( diaper rash, diaper dermatitis, napkin dermatitis ) masih kerap kita jumpai dalam keseharian, terutama pada bayi. Para orang tua sudah tidak asing lagi dengan ruam popok, suatu gangguan kulit berupa bercak merah pada kulit di area yang tertutup popok, yakni: pantat, perut bagian bawah, pelipatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-225170","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=225170"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/225170\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=225170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=225170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mereja.media\/index\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=225170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}